Seorang petani asal Desa Dikir berinisial J (26) mengungkapkan bahwa hingga hari ini, harga pupuk subsidi belum sesuai regulasi pemerintah.
“Harga terakhir yang saya tebus di kios Dikir sekitar Rp140.000 per sak, masih tinggi, Mas,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Sawir. S (29), petani setempat, menyebutkan perbedaan harga tergantung jenis pupuk:
“Pupuk merah saya beli Rp150.000 per sak, sedangkan pupuk biru Rp160.000. Padahal ini pupuk subsidi,” tutur S.
Tak hanya soal harga, masalah juga muncul soal distribusi. Petani dari Desa Plajan, MHD (31), mengeluhkan lokasi kios pupuk yang terlalu jauh dari desanya.
“Harga sudah mahal, lokasi kios juga jauh. Kami makin terbebani, apalagi biaya pertanian terus naik,” keluhnya.
Kenaikan harga ini tidak hanya membebani petani secara ekonomi, tetapi juga berpotensi menghambat produktivitas pertanian di wilayah Tambakboyo. Sejumlah petani meminta adanya pengawasan lebih ketat dari pihak terkait, khususnya dalam distribusi dan penyaluran pupuk subsidi.
Tim redaksi akan segera menghubungi pihak-pihak terkait, termasuk distributor resmi dan instansi dinas pertanian setempat, guna mendapatkan klarifikasi serta mencari solusi atas persoalan ini. (Wahyu)
