Direktur RSUD ZUS, dr. Mohamad Ardyansyah, menilai pertemuan itu sebagai bentuk nyata perhatian DPRD terhadap pelayanan publik, khususnya dalam bidang kesehatan. Ia menyampaikan apresiasinya atas catatan-catatan yang disampaikan langsung oleh Ketua Komisi 3 dan anggota dewan lainnya, yang secara terbuka mengkritisi persoalan mendasar seperti sanitasi, akses air bersih, serta kerusakan bangunan fasilitas umum.
“Kami tidak defensif. Justru catatan tersebut menjadi pijakan untuk mempercepat langkah-langkah pembenahan. Rumah sakit bukan hanya tempat pengobatan, tapi juga ruang yang harus aman dan nyaman,” ujarnya.
Dalam suasana audiensi yang berlangsung produktif, dr. Ardyansyah menegaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim teknis internal untuk secara berkala mengevaluasi dan menindaklanjuti laporan kerusakan infrastruktur. Menurutnya, sejumlah perbaikan telah berjalan, sementara sisanya sedang dalam proses perencanaan anggaran dan permohonan dukungan ke pemerintah daerah.
“Kami sadar, perbaikan toilet, sanitasi, dan air bersih bukan sekadar soal teknis, tapi menyangkut martabat pelayanan kesehatan. Ini tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Meski keterbatasan anggaran menjadi tantangan klasik, komitmen rumah sakit tetap bulat. RSUD ZUS terus berupaya merawat kepercayaan masyarakat dengan memperkuat transparansi dan respon cepat terhadap laporan publik.
Kunjungan Komisi 3 kali ini membawa harapan baru bahwa sinergi antarlembaga masih menjadi kekuatan utama untuk menjawab persoalan di sektor kesehatan. Jika dijaga secara konsisten, kolaborasi ini bukan hanya menyelesaikan persoalan teknis, tapi juga membangun budaya pelayanan yang humanis dan bertanggung jawab.
Sebagai penutup, dr. Ardyansyah menekankan pentingnya keberlanjutan sinergi lintas sektor.
“Kami percaya, perubahan yang berkelanjutan lahir dari gotong royong. Kunjungan ini adalah alarm kebaikan bagi kita semua—bahwa masyarakat butuh kita bekerja bersama, bukan sendiri-sendiri.” (Ca’Nang)
