Lembur di Bawah Cahaya Bulan: Jalan Harapan dari Tonala

Lembur di Bawah Cahaya Bulan: Jalan Harapan dari Tonala

GORONTALO – Di bawah temaram cahaya bulan dan nyala lampu seadanya, dentuman alat bangunan dan langkah kaki terdengar bersahutan di Desa Tonala, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Malam itu, prajurit TNI bersama warga desa bahu-membahu mengebut pekerjaan pengecoran jalan rabat beton sepanjang 1.143 meter — proyek utama dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 1315/Kabupaten Gorontalo.

Bukan karena dikejar waktu semata, namun karena semangat yang mereka sebut “Jemput Bintang” — simbol tekad untuk melampaui batas demi kemajuan desa.

Letkol Arh Roma Laksana Yudha, S.A.P., M.Sos., Dansatgas TMMD sekaligus Dandim 1315/Kabupaten Gorontalo, menegaskan bahwa lembur malam dilakukan untuk memastikan pembangunan selesai tepat waktu tanpa mengorbankan kualitas.

“Kami tidak hanya membangun jalan, tapi juga membangun harapan. Di sinilah wujud kemanunggalan TNI dan rakyat yang sesungguhnya. Setiap tetes keringat malam hari adalah simbol cinta kami kepada negeri,” ujar Letkol Roma.

Pengecoran jalan itu bukan sekadar proyek infrastruktur. Bagi masyarakat Tonala, jalan ini adalah nadi kehidupan — akses penting yang selama ini lumpuh saat musim hujan. Kini, setiap adukan semen dan setiap batu yang ditata menjadi simbol perubahan: dari becek menuju berdaya.

Tak hanya membangun jalan, TMMD ke-126 juga menggulirkan beragam kegiatan fisik dan non-fisik di desa tersebut. Dua unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dibangun kembali agar layak huni, tiga unit MCK umum disediakan untuk meningkatkan kebersihan lingkungan, serta satu bak penampungan air bersih untuk menjamin ketersediaan air bagi warga.
Selain itu, penyuluhan kesehatan, pertanian, bela negara, hingga stunting turut menjadi bagian dari program pemberdayaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Warga Tonala pun menyambut dengan semangat luar biasa. Mereka ikut membantu hingga larut malam, menyiapkan material dan ikut dalam pengecoran. “Kami merasa seperti keluarga besar. Tidak ada jarak antara tentara dan rakyat,” ungkap salah seorang warga yang ikut bekerja malam itu.

Di tengah lelah yang menyelimuti malam, cahaya bulan seolah menjadi saksi kebersamaan yang tulus. Jalan rabat beton yang perlahan terbentang itu bukan sekadar infrastruktur — ia adalah jalan harapan, hasil dari gotong royong, ketulusan, dan pengabdian. ###

Exit mobile version