Melalui peran Babinsa, Serka Azis N tampil bukan hanya sebagai aparat teritorial, tetapi sebagai agent of influence yang menyasar ruang paling krusial—lingkungan pendidikan. Di hadapan puluhan pelajar, materi Wasbang disampaikan bukan sekadar doktrin normatif, melainkan sebagai alarm sosial atas tantangan zaman yang kian kompleks.
Dari Hafalan ke Internaliasi Nilai
Salah satu titik tekan kegiatan ini adalah pergeseran pendekatan: dari sekadar menghafal Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, menuju pemahaman yang kontekstual dan aplikatif.
Serka Azis menegaskan bahwa generasi muda saat ini tidak cukup hanya mengenal simbol negara, tetapi harus mampu menginternalisasi nilai persatuan, toleransi, dan tanggung jawab kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi penting di tengah realitas sosial yang semakin rentan terhadap polarisasi, disinformasi, dan degradasi moral.
Disiplin: Isu Sederhana yang Sering Diabaikan
Menariknya, penyuluhan ini tidak berhenti pada narasi besar kebangsaan. Justru, fokus diarahkan pada hal yang kerap dianggap sepele: disiplin dan etika.
Ketepatan waktu masuk kelas, kepatuhan terhadap aturan sekolah, hingga sikap hormat kepada guru—semua itu ditegaskan sebagai fondasi dasar keberhasilan. Dalam perspektif ini, TNI melihat bahwa krisis karakter tidak selalu dimulai dari pelanggaran besar, tetapi dari kelalaian kecil yang dibiarkan terus-menerus.
Ancaman Nyata: Narkoba, Pergaulan Bebas, dan Disorientasi Generasi
Penyuluhan juga secara eksplisit menyentuh isu sensitif yang nyata di lapangan: narkoba, pergaulan bebas, dan kebiasaan merokok di usia dini. Ini bukan sekadar imbauan moral, melainkan refleksi dari kondisi sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Serka Azis secara lugas mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kemampuan generasi muda menjaga diri dari pengaruh destruktif.
Peran TNI: Melampaui Fungsi Pertahanan
Kegiatan ini sekaligus menegaskan transformasi peran TNI, dari kekuatan pertahanan semata menjadi mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Melalui TMMD, TNI tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga berupaya membangun “infrastruktur mental” generasi muda.
Sinergi antara Kodim 1316/Boalemo dan lembaga pendidikan menjadi bukti bahwa pembentukan karakter tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan berjiwa nasionalis.
Investasi Karakter untuk Masa Depan Daerah
Di tengah berbagai tantangan sosial yang mengintai generasi muda, kegiatan Wasbang TMMD ke-128 ini menjadi intervensi preventif yang relevan dan mendesak.
Pesan yang disampaikan jelas: bahwa masa depan Boalemo—bahkan Indonesia—tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi oleh kualitas karakter generasi penerusnya.
Jika penyuluhan seperti ini konsisten dilakukan dan ditindaklanjuti, maka TMMD tidak hanya akan dikenang sebagai program pembangunan desa, tetapi juga sebagai fondasi lahirnya generasi tangguh yang mampu menjaga keutuhan bangsa di tengah perubahan zaman.
