Tak sekadar membangun jalan dan jembatan, para prajurit ini juga membangun jembatan spiritual antara manusia dan Tuhannya. Salah satu anggota Satgas, Serka Laode Kalawara, dengan latar belakang keagamaan yang kuat, menjadi sosok guru yang ditunggu-tunggu anak-anak setiap sore. Di sela tugas beratnya, ia mengajarkan cara membaca Al-Qur’an dengan tartil, sabar membimbing huruf demi huruf, makhraj demi makhraj.
“TMMD bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga tentang warisan nilai. Kami ingin meninggalkan jejak yang abadi di hati masyarakat,” ujar Dandim 1315/KG Letkol Arh. Roma Laksana Yudha, S.A.P., M.Sos., dengan nada penuh makna.
Masyarakat Tonala pun menyambut inisiatif itu dengan sukacita. Di daerah yang jauh dari pusat pendidikan agama formal, kehadiran TNI bukan hanya membawa pembangunan, tetapi juga pencerahan rohani. Anak-anak yang dulu canggung melafalkan ayat kini mulai lancar membaca, dan para orang tua memandang kegiatan ini sebagai anugerah.
“Kami merasa tersentuh. Anak-anak jadi rajin ke mushola, dan bapak TNI mengajarnya dengan sabar dan kasih,” ungkap seorang tokoh masyarakat.
Program non-fisik seperti ini memperlihatkan wajah sejati TMMD — sinergi antara kekuatan, kasih, dan keimanan. Ia membuktikan bahwa membangun bangsa tak cukup dengan semen dan batu, tapi juga dengan doa dan nilai moral yang kokoh.
Dengan pendekatan menyeluruh — jasmani dan rohani, fisik dan batin — TMMD 126 meninggalkan kesan bahwa pembangunan terbaik adalah yang menyentuh jiwa manusia. ###
