Pohuwato – Masjid Agung Baiturrahim, Jumat (27/6/2026), menjadi ruang perenungan yang hening ketika AKBP Busroni berdiri sebagai khatib Salat Jumat. Di hari-hari awal Ramadhan, ia tidak sekadar menyampaikan khotbah, melainkan mengajak jamaah menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menatap ke dalam diri dan menjawab satu pertanyaan mendasar yang sering terabaikan: untuk apa hidup ini dijalani?
Kapolres membuka khotbah dengan mengingatkan bahwa umat Islam telah memasuki hari ke-9 bulan suci Ramadhan—bulan yang Allah SWT jadikan sebagai madrasah ruhani. Bulan di mana manusia diajak membersihkan hati, meluruskan niat, dan memperbaiki arah hidup. Ramadhan, menurutnya, bukan hanya soal rutinitas ibadah, tetapi momentum untuk mengembalikan kesadaran tentang tujuan penciptaan manusia.
Dengan nada tenang namun sarat makna, Kapolres menyampaikan tema khotbah “Hidup Ini Untuk Apa?”. Ia menggambarkan bagaimana manusia kerap berada dalam situasi-situasi sunyi—saat menatap langit yang luas atau malam yang dipenuhi bintang—lalu muncul kegelisahan eksistensial tentang makna hidup. Pertanyaan itu, katanya, adalah fitrah. Namun yang paling merugikan adalah ketika manusia menjalani hidup panjang tanpa pernah menemukan jawabannya.
Ia menegaskan bahwa kesalahan terbesar manusia adalah ketika tujuan hidup direduksi menjadi sekadar pencapaian duniawi: jabatan, pangkat, harta, dan popularitas. Semua itu, menurutnya, tidak lebih dari perhiasan sementara. Tujuan sejati hidup adalah beribadah kepada Allah SWT, dalam arti yang luas dan menyeluruh. Ibadah tidak berhenti di sajadah, melainkan hadir dalam setiap amal baik yang dilandasi niat karena Allah—baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun interaksi sesama manusia.
Kapolres menjelaskan, ketika seseorang memahami tujuan hidupnya, maka tidak ada satu pun perbuatan yang sia-sia. Setiap langkah menjadi bernilai pahala, setiap kesabaran menjadi ibadah, dan setiap pengorbanan menjadi jalan mendekat kepada Allah. Sebaliknya, kehampaan sering kali lahir bukan karena kekurangan, tetapi karena hidup dijalani tanpa orientasi ilahiah.
Tujuan hidup pertama yang ditekankan adalah pengabdian total kepada Allah SWT. Allah menghendaki manusia mencintai-Nya, menaati perintah-Nya, dan menjadikan aturan-Nya sebagai kompas kehidupan. Manusia boleh memilih jalan hidupnya, namun kebebasan itu akan kehilangan makna jika tidak diarahkan untuk mencari ridha Allah. Tanpa tujuan tersebut, keberhasilan dunia hanya akan berujung pada kelelahan dan penyesalan.
Lebih jauh, Kapolres mengingatkan bahwa hidup juga merupakan ujian. Allah SWT menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa yang paling baik amalnya. Ujian itu tidak selalu berupa kesulitan; kesehatan, kelimpahan rezeki, kekuasaan, dan kenikmatan pun adalah ujian yang sering kali lebih berat. Semua menuntut kesungguhan iman, karena setiap ujian akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
“Ujian bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi cara Allah memberi arah, agar manusia tidak tersesat dalam hidupnya dan senantiasa meningkatkan iman serta takwa,” tutur Kapolres di penghujung khotbah.
Khotbah itu pun berakhir, namun pesannya tertinggal lama di hati jamaah. Di bulan Ramadhan yang penuh cahaya ini, mimbar Jumat kembali mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang berjalan jauh, melainkan tentang memastikan arah—agar setiap langkah bermuara pada Allah SWT. ###












