Pilkada Gorontalo Utara Dinilai Tidak Menarik, Praktisi Politik Soroti Minimnya Figur Baru

Febri Mohu (Foto: Dok)

onetalk.co.id, Gorontalo Utara – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) tahun ini dinilai tidak menarik oleh berbagai praktisi dan pemerhati politik. Dari pantauan awak media, hal ini disampaikan oleh sejumlah tokoh politik lokal dalam berbagai kesempatan.

Febri Mohu, seorang aktivis dan pelaku politik, dengan tegas menyatakan bahwa kondisi tahapan Pilkada Gorut yang sedang berproses saat ini memang tidak menarik. “Tidak menarik, dan iya memang begitu keadaan dan kondisi yang ada. Itu tidak bisa dipungkiri,” ungkapnya.

Menurut Febri, salah satu alasan utama Pilkada Gorut kurang menarik adalah minimnya figur atau kandidat baru yang mencalonkan diri sebagai bupati. “Tidak ada figur yang baru, bahkan baru satu orang yang dengan jelas menyatakan diri sebagai calon bupati yakni Roni Imran. Sementara figur lainnya belum ada,” jelasnya.

Roni Imran sendiri bukanlah wajah baru dalam kancah politik Gorut. Dia pernah menjabat sebagai wakil bupati dan beberapa kali duduk sebagai wakil rakyat. “Sehingga figur ini sudah lama dan diketahui dengan pasti siapa,” kata Nanang, pemerhati politik lainnya.

Figur lain seperti Thariq Modanggu dan Thomas Mopili, yang juga merupakan tokoh lama, belum memberikan kejelasan apakah mereka akan maju dalam Pilkada kali ini. “Figur lainnya yang baru belum ada yang berani menyatakan diri. Apakah mereka takut dengan elektabilitas ataukah karena kondisi daerah atau hal lainnya, itu belum ada yang berani,” tegas Febri.

Febri juga menyebutkan bahwa meskipun Gorut memiliki banyak politisi, yang menjadi pertanyaan adalah siapa di antara mereka yang berani tampil sebagai figur baru untuk membangun daerah ini. “Jujur saja, daerah ini butuh figur baru untuk membangun daerah ini, namun kembali lagi siapa,” ujarnya.

Ke depannya, publik menantikan gerakan partai politik selain Nasdem. Berdasarkan hasil Pileg terakhir, masih ada PDIP dan Hanura yang memiliki cukup kursi untuk mengusung pasangan calon tanpa harus berkoalisi. Sementara Golkar, Gerindra, dan PKS harus berkoalisi jika ingin mengusung kandidat.

Dengan kondisi seperti ini, Pilkada Gorut 2024 masih menyisakan banyak tanda tanya mengenai siapa saja yang akan maju dan bagaimana dinamika politik akan berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Masyarakat berharap ada sosok baru yang mampu membawa perubahan dan membangun Gorut ke arah yang lebih baik. (BYP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *