Gorontalo Utara, 23 Juni 2025 — Di tengah dinamika sistem kesehatan daerah, RSUD dr. Zainal Umar Sidiki (ZUS) mengambil langkah strategis dalam mentransformasi pelayanan melalui pendekatan manajerial yang adaptif dan kolaboratif. Direktur RSUD ZUS, dr. Mohammad Ardiansyah, menyoroti pentingnya sinergi multi-aktor, termasuk dukungan Pemerintah Daerah dan evaluasi dari BPJS Kesehatan, sebagai fondasi utama dalam membangun sistem layanan yang berdaya saing.
Forum Kemitraan Pengelolaan Kerja Sama Fasilitas Kesehatan yang digelar di Aula RSUD ZUS menjadi panggung penting bagi dr. Ardiansyah untuk menegaskan transformasi arah pelayanan rumah sakit. Tidak hanya sebagai institusi medis, RSUD ZUS kini dihadapkan pada tantangan untuk menjadi institusi publik yang lincah dalam menyesuaikan regulasi dan kebutuhan masyarakat.
“Kehadiran Pak Sekda bukan sekadar simbolis. Ini mencerminkan semangat kolaborasi strategis yang sedang kita bangun. Kami ingin RSUD ZUS menjadi bagian dari sistem kesehatan yang terintegrasi, bukan berdiri sendiri,” kata dr. Ardiansyah.
Salah satu inovasi yang sedang digodok adalah penerapan kebijakan fleksibilitas kerja bagi dokter spesialis ASN, seiring dengan rencana lahirnya Peraturan Bupati yang merujuk pada Perpres Nomor 21 Tahun 2023. Kebijakan ini diharapkan menjadi solusi atas tantangan klasik seperti keterbatasan jumlah dokter spesialis dan ketimpangan jadwal praktik.
“Fleksibilitas bukan berarti longgar, tapi justru menjadi ruang manuver agar kami bisa mengatur distribusi dan beban kerja dokter dengan lebih cerdas dan efisien,” ujarnya.
Dalam catatannya, tingkat kepatuhan dokter terhadap disiplin jam kerja telah mencapai 96 persen, menurut hasil evaluasi BPJS. Namun, RSUD ZUS tidak berpuas diri. Ardiansyah menyebut perlunya pembenahan sistematis agar pelayanan medis tidak terkonsentrasi hanya pada hari-hari tertentu.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya membangun budaya dialog dan transparansi di internal rumah sakit. “Kami bukan hanya ingin menjadi tempat berobat, tapi juga menjadi institusi yang tanggap, terbuka, dan berorientasi pada solusi,” katanya.
RSUD ZUS juga menaruh perhatian pada perluasan dampak layanan kesehatan ke wilayah-wilayah terpencil. Ardiansyah menyebut rumah sakit seperti RS Boliyohuto, RS Dunda, dan RS Otnaha harus menjadi bagian dari ekosistem pelayanan yang adil dan merata.
“Perjuangan membangun pelayanan kesehatan bukan hanya di pusat kabupaten. Keadilan layanan harus terasa sampai pelosok. Di sinilah pentingnya regulasi dan kolaborasi yang menyeluruh,” tegasnya.
Dengan mengedepankan pendekatan berbasis kemitraan, fleksibilitas, dan tata kelola modern, RSUD ZUS di bawah kepemimpinan dr. Ardiansyah menunjukkan wajah baru rumah sakit daerah: tidak sekadar pelaksana teknis, tetapi juga aktor strategis dalam membentuk arah pembangunan kesehatan daerah. (Ca’Nang)












