Gorontalo – Di banyak kampung, pesta pernikahan bukan sekadar acara keluarga. Ia adalah peristiwa sosial—tempat tetangga bertemu, saudara berkumpul, dan doa-doa mengalir bersama. Tenda berdiri di jalan, kursi berjajar, musik menggema. Namun di balik kemeriahan itu, sering kali ada satu konsekuensi: jalan umum tertutup, arus lalu lintas terganggu, dan keselamatan pengguna jalan dipertaruhkan.
Permohonan itu sampai ke meja Kapolres Pohuwato, AKBP Busroni. Warga meminta izin menggunakan badan jalan untuk hajatan. Situasi yang sensitif—antara menjaga tradisi dan memastikan ketertiban.
Alih-alih sekadar melarang, Kapolres memilih pendekatan yang lebih membumi. Ia membuka Aula dan Lapangan Polres Pohuwato untuk digunakan masyarakat secara gratis sebagai lokasi pesta pernikahan.
“Polres Pohuwato adalah milik masyarakat,” ujarnya tegas namun hangat.
Kalimat itu bukan sekadar pernyataan formal. Ia adalah pesan bahwa institusi kepolisian bukan menara yang terpisah dari rakyat. Ia bagian dari denyut kehidupan warga. Ketika masyarakat butuh ruang untuk merayakan kebahagiaan, negara pun hadir memberi solusi.
Kebijakan ini menjadi jalan tengah yang elegan. Kebahagiaan tetap dirayakan. Jalan raya tetap aman. Ketertiban tetap terjaga. Semua berjalan tanpa harus saling mengorbankan.
Dalam konteks pelayanan publik, langkah ini terasa sederhana. Namun secara sosial, ia membawa dampak besar. Warga merasa dihargai. Mereka tidak hanya diingat saat ada pelanggaran, tetapi juga didampingi saat ada perayaan.
Inilah makna “polisi mopiyohu”—polisi yang merangkul dan peduli. Bukan hanya menegakkan aturan, tetapi juga menciptakan ruang solusi. Tentu dengan syarat: tertib, tidak mengganggu aktivitas kedinasan, serta menjaga keamanan dan kebersihan.
Lebih dari sekadar izin penggunaan tempat, kebijakan ini adalah ajakan untuk mencerdaskan kesadaran bersama. Bahwa ruang publik seperti jalan raya adalah milik semua orang dan harus dijaga bersama. Bahwa pekarangan pribadi bisa dimaksimalkan. Dan bila tak cukup, pintu Polres terbuka.
Di suatu hari nanti, mungkin akan ada pasangan pengantin yang mengucap ijab kabul di lapangan Polres, disaksikan keluarga dan tetangga. Di tempat yang biasanya identik dengan sirene dan seragam, justru terdengar lantunan doa dan harapan.
Dan dari sana, masyarakat belajar satu hal penting: hukum dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan. Ketegasan tidak harus kehilangan empati.
Karena sejatinya, ketika kantor polisi bisa menjadi rumah rakyat, di situlah kepercayaan tumbuh dengan sendirinya.












