Debat Selesai, Saatnya Memilih

Sumber: Google

Opini – Lima babak debat telah berlalu, visi dan misi telah diungkapkan, dan kita telah mendengar tindakan apa yang akan diambil oleh calon presiden dan calon wakil presiden terkait masa depan Indonesia dalam lima tahun mendatang.

Koalisi “petahana” menekankan pencapaian yang telah dicapai dan rencana untuk menyempurnakannya saat mendapatkan mandat rakyat. Di sisi lain, penantang telah secara rutin mengungkapkan rencananya dan memberikan catatan kekurangan rezim saat ini.

Namun, rentetan debat itu sendiri terasa kurang memikat, bahkan ada yang mengkritik bahwa hal itu tidak lebih dari permainan cerdas-cermat. Satire dilemparkan, parodi gimmick dipertontonkan, namun sejauh mana debat ini berdampak signifikan pada calon pemilih?

Seperti yang dapat diduga, pengaruhnya tidak begitu besar. Debat justru cenderung memperkuat keyakinan konstituen pada paslon masing-masing daripada merubahnya. Keyakinan ini seringkali tidak memerlukan argumen, melainkan hanya konfirmasi dari hati yang subjektif dan sulit dicari pijakan objektivitasnya.

Sebagaimana dalam agama, keyakinan dalam politik dapat menimbulkan fanatisme dan klaim kebenaran yang dianggap absolut. Ini terlihat dalam media sosial, di mana pendukung paslon saling merisak satu sama lain. Kelebihan paslon menjadi fokus, sementara kekurangannya disorot oleh lawannya, dan sebaliknya.

Lalu, apakah efek debat memiliki dampak signifikan pada pemilih? Seperti air di atas daun talas, efek debat nyaris tak berbekas. Atau mungkin, para pendukung telah terlanjur dalam hubungan bipolar, dan tidak ada ruang untuk pertemuan.

Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada kawan abadi, hanya kepentingan yang terus berubah. Oleh karena itu, penyebaran hoax atau hate speech untuk menghambat langkah lawan menjadi tidak penting. Kebenaran akan muncul dengan caranya sendiri pada akhirnya.

Apakah kampanye dalam bentuk debat masih relevan? Menurut saya, tidak hanya relevan, tetapi juga penting. Setidaknya, pemilih harus tahu apa yang ada di kepala masing-masing paslon, walaupun dibantu dengan catatan dan nasehat dari tim briefing.

Debat bukanlah segalanya. Pemilih sudah memiliki preferensi dan debat tidak secara total mengubah haluan mereka atau menggerus angka elektoral paslon. Rekam jejak paslon telah tertanam dalam pikiran pemilih, didukung oleh rekam digital media sosial di masa lalu.

Tidak semua orang mahir dalam berdebat, sebagaimana tidak semua yang mahir berbicara dapat menghasilkan argumentasi berkualitas. Keahlian berbicara dan kualitas argumentasi adalah dua hal yang berbeda. Keterpilihan pemimpin dalam demokrasi bukan hanya karena kemampuan berdebat, tetapi lebih pada pengalaman mengelola urusan publik, mengatur arus kepentingan politik, dan menerjemahkan kebijakan dengan tepat.

Sejarah, dari Aristoteles hingga Manusia Pergerakan di Indonesia, menunjukkan bahwa debat hidup di kalangan filsuf. Buku-buku tebal hasil perdebatan mereka masih terbaca hingga hari ini. Para pemimpin Indonesia pada masa pergerakan seperti Soekarno, Sjahrir, Hatta, dan lainnya, mencerminkan “skilled debaters” yang akrab dengan literasi, aktif berdiskusi, dan terhubung dengan massa.

Meskipun debat tidaklah segalanya, pemimpin yang visioner harus memiliki keterampilan berbicara dan intelektualitas. Produk kebijakan yang dihasilkan pun harus teruji, visioner, dan bermutu. Sebagai pewaris reformasi, para pemimpin saat ini bukan filsuf atau perintis kemerdekaan, melainkan politisi yang berusaha meyakinkan warga bahwa mereka adalah yang terbaik.

Di tengah kondisi politik yang berisik, pasar gelap politik menjadi tempat bagi para broker dan mafioso politik yang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, bahkan menabrak kepentingan publik.

Lima sesi debat telah usai. Autentisitas visi misi, program substansial, dan rekam pengalaman diharapkan telah tercermin. Di debat penutup, para calon pemimpin menampilkan momen yang menggugah persatuan, meminta maaf, dan bahkan berpelukan, menciptakan citra yang bangga.

Sisa waktu hingga 14 Februari 2024 menjadi momentum bagi warga untuk menggunakan hak pilih mereka secara bertanggung jawab. Semoga kebisingan politik dapat mereda, dan proses demokrasi berjalan dengan lancar.

Penulis: Zulkarnain Musada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *