POTANGA – Kepala Desa Potanga, Marwan Rahim, memberikan penjelasan terkait keterlambatan pelaksanaan Rehabilitasi Kolam Desa Potanga yang belakangan menjadi perhatian publik setelah disoroti oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Menurut Marwan, keterlambatan pekerjaan bukan berarti program tersebut dihentikan. Ia menegaskan, pelaksanaan kegiatan mengalami hambatan akibat sejumlah faktor teknis yang terjadi di lapangan. Selasa (22/09/2026)
Salah satu kendala utama, kata Marwan, adalah keterlambatan pengadaan material bangunan, khususnya semen, yang pada saat itu mengalami keterbatasan pasokan sehingga berdampak terhadap jadwal pelaksanaan pekerjaan.
Marwan menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi dalam rentang April hingga Agustus 2026. Menurutnya, pada periode tersebut hampir seluruh toko bangunan di Kecamatan Biau memprioritaskan pasokan semen untuk memenuhi kebutuhan sejumlah proyek berskala besar yang sedang berjalan.
“Memang ada keterlambatan pekerjaan. Salah satu penyebabnya adalah pengadaan semen yang saat itu agak terlambat. Dari sekitar April sampai Agustus, pasokan semen cukup sulit karena hampir semua toko di Biau melayani kebutuhan proyek-proyek strategis yang sedang berjalan,” ujar Marwan.
Ia menyebutkan, di antaranya adalah pekerjaan irigasi yang dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, yang menurutnya turut meningkatkan kebutuhan material bangunan di wilayah tersebut.
Selain keterbatasan material, Marwan mengatakan faktor cuaca juga menjadi kendala yang memengaruhi pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
“Di samping kendala material, kondisi cuaca juga menjadi faktor yang menyebabkan pekerjaan belum dapat berjalan sesuai jadwal yang direncanakan,” katanya.
Ia menjelaskan, kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan pekerjaan rehabilitasi kolam belum dapat dilaksanakan sesuai target awal.
Meski demikian, Marwan memastikan Pemerintah Desa Potanga tetap berkomitmen menyelesaikan rehabilitasi kolam sebagai salah satu program pembangunan desa yang telah dianggarkan dalam APBDes Tahun Anggaran 2026.
Menurutnya, pemerintah desa terus berupaya agar pekerjaan dapat segera dilanjutkan setelah kebutuhan material tersedia dan kondisi cuaca memungkinkan.
“Kami tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan ini sesuai ketentuan yang berlaku. Yang kami inginkan adalah hasil pekerjaan nantinya dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Marwan juga menyampaikan apresiasi terhadap fungsi pengawasan yang dilakukan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Menurutnya, pengawasan merupakan bagian dari mekanisme penyelenggaraan pemerintahan desa untuk memastikan setiap program pembangunan berjalan sebagaimana mestinya.
“Kami menghormati fungsi pengawasan BPD karena itu merupakan bagian dari sistem pemerintahan desa. Masukan dan pengawasan tentu menjadi bahan evaluasi bagi kami dalam melaksanakan program pembangunan,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat memahami kondisi yang terjadi secara utuh dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum seluruh proses pembangunan selesai dilaksanakan.
“Kami berharap seluruh informasi dapat dipahami secara menyeluruh sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Pemerintah Desa Potanga tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan rehabilitasi kolam ini,” jelas Marwan.
Selain kendala pengadaan material, Marwan mengatakan kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut hingga saat ini juga menjadi faktor yang memengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Menurutnya, suhu yang cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir menjadi pertimbangan teknis dalam pelaksanaan rehabilitasi kolam.
“Selain keterlambatan pengadaan semen, kami juga dihadapkan pada kondisi cuaca yang sangat panas ekstrem hingga saat ini. Kondisi tersebut ikut memengaruhi pelaksanaan pekerjaan di lapangan sehingga progresnya belum dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan,” ujar Marwan.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Desa Potanga memilih untuk menyesuaikan waktu pelaksanaan pekerjaan dengan mempertimbangkan ketersediaan material serta kondisi cuaca agar kualitas hasil pembangunan tetap terjaga dan pekerjaan dapat diselesaikan secara optimal.
“Kami tidak ingin pekerjaan dilakukan secara terburu-buru apabila kondisi di lapangan belum memungkinkan. Prinsip kami, pekerjaan harus tetap mengedepankan kualitas sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang,” tutupnya.
Pernyataan Kepala Desa Potanga tersebut merupakan hak jawab atas sorotan BPD mengenai progres rehabilitasi Kolam Desa Potanga. Redaksi tetap membuka ruang bagi seluruh pihak untuk menyampaikan keterangan sebagai bagian dari pemberitaan yang berimbang sesuai Kode Etik Jurnalistik













