“Hati dalam Kesunyian”

(Foto: Google)

Goresan Pena

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus berputar, ada seorang yang memilih berdiam diri dalam kesendirian. Namun, jangan salah sangka, dalam keheningan itu, terdapat kekuatan besar yang tak terlihat oleh banyak orang.

Dia adalah seseorang yang tak menyukai keramaian, yang memilih menjaga jarak dari kerumunan. Di balik pergulatan antara kesibukan orang di sekitarnya, dia memilih menyendiri, bukan karena tidak ada yang mendekat, melainkan karena ada hati yang ingin dijaga.

Dalam ruang kesendirian itu, dia menjalin dialog paling intim dengan hatinya. Setiap jeda, setiap helaan nafas, adalah momen kebersamaan yang tak ternilai. Kesendirian itu bukanlah kutukan, melainkan pilihan yang diambilnya untuk menyelami kedalaman hati, menemukan kedamaian yang tidak mungkin didapat dalam keramaian dunia.

Hati yang dijaga bukan berarti hati yang terkunci, melainkan hati yang selektif dalam membiarkan siapa yang layak mendekat. Ada kehangatan terselip di balik kesendiriannya, sebuah kelembutan dalam menjaga hati dari kerumitan dunia.

Saat matahari terbenam, dia duduk di balkon, menatap langit yang penuh bintang. Di sana, dalam keheningan malam, terpancar kekuatan dan kebesaran hati yang menjaga kesendirian. Dia tidak sendirian, melainkan menemukan kehangatan dalam kedamaian yang diciptakan sendiri. (BYP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *